Sudan,
Antara Perjuangan dan Karier
Sudan adalah sebuah negara yang belum bisa dikatakan sebagai negara berkembang, apalagi negara maju. Negara Sudan terbagi menjadi dua
negara bagian. Sudan yang
mayoritas muslim sebelum berpisah dengan Sudan Selatan sangat kaya dengan
hasil minyak buminya,
dan ini
menjadi bagian sebab negara
ini diembargo sepihak oleh negara-negara barat mulai dari tahun
1997 hingga sekarang. Semenjak Sudan terpecah, pendapatan kas negara menjadi lemah karena kilang minyak hampir 75% berada di
wilayah Sudan Selatan.
Selain terkenal dengan minyaknya, Sudan juga
terkenal dengan Sungai Nil-nya, sungai terbesar dan terpanjang di
dunia yang membentang luas di benua Afrika. Disisi lain, negara Sudan
sendiri memiliki musim yang sangat ekstrem, diantaranya ketika musim dingin
suhunya mencapai 7 derajat Celcius. Begitu juga sebaliknya, ketika musim panas suhu bisa
mencapai 48
derajat Celcius.
Lebih parahnya lagi masyarakat di Sudan ini sangatlah kolot dan penuh dekadensi.
Bisa dikatakan mengalami
kemunduran seiring berkembangnya zaman yang serba modern.
Meski cuaca dan keadaan masyarakat Sudan
tergolong masih mundur dalam berbagai aspek, termasuk dalam segi ilmu pengetahuan
dan teknologi sangat tidak mendukung mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu
di sana, akan tetapi hal tersebut tidak
serta merta membuat para mahasiswa patah semangat begitu saja. Bahkan, banyak dari mereka merasa tertantang dengan
keadaan cuaca maupun kultur
di negeri dua nile ini.
Mahasiswa yang belajar di Sudan tidak
bisa dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar di Indonesia karena
mahasiswa
Indonesia yang belajar di sini
harus bertahan hidup dengan cuaca ekstrem. Dikala musim panas mereka kepanasan, ketika
musim dingin mereka
kedinginan.
Banyak diantara
mereka yang
fisiknya lemah jatuh sakit karena cuaca yang tidak sama dengan alam Indonesia. Selain mahasiswa Indonesia, mahasiswa dari negara lain pun banyak yang sakit, bahkan ada yang meninggal dunia. Rata-rata mereka
yang meninggal berasal dari negara Malaysia, Thailand, Philipina dan negara-negara Afrika bagian selatan.
Menjadi mahasiswa Sudan tidak hanya belajar
di dalam kelas,
sehabis kuliah banyak
dari mereka mengikuti kajian-kajian kitab yang diadakan oleh masyayikh Sudan,
diantaranya mengkaji
kitab fiqih,
tafsir, hadits, dan tauhid. Dari banyaknya
kajian-kajian kitab di luar kampus membuat para pelajar Indonesia sangat antusias
untuk mengikuti kajian hingga larut malam.
Dari banyaknya kegiatan-kegiatan
yang ada, tidak sedikit biaya yang dikeluarkan para mahasiswa di sini untuk ongkos pulang pergi kuliah,
maupun menghadiri kajian-kajian kitab, belum lagi ditambah untuk
membeli kitab perkuliahan maupunkitab untuk kajian. Maka dari itu,
ada sebagian yang
memutuskan untuk terjun ke dunia karier, yaitu bekerja.
Kebanyakan dari mereka yang meniti karier
sangatlah piawai mengatur waktu untuk kuliah, mengikuti kajian dan juga bekerja. Oleh sebab itu, mahasiswa Indonesia yang ada di Sudan
bisa dikatakan cukup mandiri, tidak meminta kiriman dari orang tua mereka,
berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang berada di luar Sudan.
Bukan hanya belajar dan berkarier saja, mereka juga
sangat gigih untuk terjun ke berbagai organisasi kemahasiswaan maupun organisasi
Islam yang berada
di negeri
Omar Baasyir ini.
Dari hal ini,
kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mahasiswa yang berada di negara Sudan sangatlah
terpelajar dan sabar menghadapi susahnya hidup di negeri dua nil ini. Sekian
tulisan yang berbobot, bro.
BalasHapushaha thanks broo
BalasHapus