Benih Kerinduan
Hening
terasa di malam ini, begitu sepi sunyi. Jendela-jendela terbuka lebar. Bau dan udara
begitu pengap tak sedap. Kamar terlihat sempit menghimpit. Baju berserakan di
atas lantai. Tempat tidur tak beratur semakin memperkeruh keadaan. Aku hanya bisa
termenung sembari menengok kearah jendela. Hanya terlihat satu dua bintang
tampak di langit kelam.
Hanya bisa terpengangah melihat tugas-tugas yang ada.
Sambil ditemani secangkir energen
yang hangat, terdengar syair-syair telah mengeluarkan alunan
suara. Malam kian
suram tak menentu. Aku pun hanya pasrah melihat kenyataan yang seperti ini.
Di tengah
–tengah kesunyian, terlihat
layar laptop kian terang bersinar seakan menghidupkan malam yang mulai kelam. “Iseng-iseng buka facebook ah biar
tak jenuh” Batinku dalam hati.
Setelah login membaca status teman, membuka
pemberitahuan, dan pesan. Tapi kosong tak
ada apa-apa.
Aku pun melanjutkan
belajar, terlelap dalam tugas-tugas yang ada. Tak
terasa sudah 1 jam lamanya konsen sama materi-materi yang diberikan dosen. teg
teg... aku tersentak kaget mendengar bunyi pesan masuk dari facebookku. Setelah mengecek. “Fina ??? Oh tuhan..” Batinku.
# Om, Fina balik dulu
ya... Selorohnya
tiba-tiba
Sebuah pesan yang membuatku
terkaget untuk kedua kalinya.
* Loh mau balik
kemana, Fin? Ke pondok ? Tanyaku
# Ya iya lah, Om… Kemana lagi kalo nggak kepondok....
# Om, semangat ya... Imbuhnya
* Iya Dek Fina insyaAllah. Fina juga ya, baik-baik di pondok, jangan
nakal...
# Ye… Om mah selalu
angap Fina begitu mulu. Fina sekarang kan udah gede om...
* Hehe iya iya Fina… Om mah cuma canda, dek...
Seketika, aku
teringat waktu pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya.
***
Pare, 3 Agustus
2012. Kala itu
aku sedang menungu Naila di cafe
black coffe,
hembusan angin
kota kediri semakin nampak membekukkan jiwa.
dingin sepi
sunyi menjadi satu.
seakan akan
malam ini memperlihatkan keindahanya.
sorotan sinar
rembulan cincin pun tampak cantik dari kejahuan.
Seolah-olah rembulan itu berkata, lihatlah aku! lihatlah aku!
Aku terduduk sendiri, ditemani gitar yang tergeletak
begitu saja. Para pelayan dan pembeli berlalulalang mondar-mandir kesana
kemari. Lampu terlihat redup terang. Café sangat ramai oleh pengunjung.
Terlihat di tengah-tengah banyak sekali orang bermain pocker, tak laki maupun
perempuan. Di pojokan sebelah kiri sana juga terlihat sedang asyik berdiskusi,
dengan mahirnya mereka berdiskusi memakai Bhs. Inggris. Yah Namanya juga
kampung Inggris.
Baru ku sadari sudah 30 menit
aku berada
di sini, ditemani secangkir
cofe nescafe dan gitar yang selalu menemani kesendirianku.
Terkejut, terdengar suara riang menyapa dari belakang.
“Assalamualaikum… Ron...”
Aku pun
tersentak dengan kedatangannya.
“Eh Iya, ehem Nenek,,
bikin kaget saja kamu !!!” Jawabku, begitulah aku selama ini memanggil Naila dengan sebutan Nenek.
“Hehe… sory-sory. Eh, ini
kenalin temen-temenku, Arfa, Indah,
dan satu lagi Fina”.Ujar Naila seraya memperkenalkan teman-temannya.
“Oww hei.... Silahkan
duduk, senang bisa berkenalan dan bertemu dengan kalian” Sambutku.
Setelah
sekian lama aku dan mereka berbincang-bincang, main gitar bersama mereka. Akhirnya,
malam kini sudah tak dapat lagi diajak bekerjasama. Malam pun mulai memadamkan
keindahannya. Mereka pamit untuk kembali ke asrama, “Oh,
mungkin kalau tidak ada jam malam bisa sampai subuh kali ya” Batinku.
Kini hanya tinggal aku sendiri, di teras café. Sembari memandangi sepeda-sepeda terpakir di
depan sana. Dengan pelan, ku lantunkan
gitar sambil membayangkannya. Fina!!!
Tak lama kemudian terdengar hp berdering. “Om, met bobok ya…”Satu pesan dari
Fina. Begitulah sapanya padaku. Entah kenapa dia panggil diriku dengan sebutan,
Om.
***
Pagi ini
terlihat cerah dengan embun yang masih tebal....
Buku masih
berserakan di seberang pojok kamar....
Hebusn anginpun
masih begitu dingin...
Tak ada seorang pun yang sanggup
bangun dipagi ini....
Papan tulis
masih penuh dengan coretan-coretan
kemaren....
Masih seperti biasanya. Tak ada yang berubah. Tak ada yang beda. Yah
memang begini adanya.Suatu ketika kita jalan bersama ditemani dengan sepeda
yang selalu stand by untuk menemani hari-hariku bersamanya. Memang sulit untuk
mengutarakan apa yang sedang kurasa saat itu. Yah mungkin itulah sebuah
kemistri yang ada.
Canda tawanya tak pernah lepas dari
raut wajahnya yang ayu. Angun memang. Kacamatanya tempak menghiasinya. Rona
mata begitu tajam berkaca-kaca. Senyum manis mengurai seluruh keindahannya. Tiada hari yang ku jalani tanpanya. Hampir setiap saat ku habiskan waktu luangku bersamanya.
Tak hanya pagi dan sore saja. Malam juga selalu bersamanya.
Teringat pada suatu malam. Dia pernah
bercerita tentang seseorang yang suka
sama dia. Rasa hati ini seperti di iris-iris, seluruh jiwa terasa bergetar.
meletup-letup bak seakan mau meledak. tapi apalah daya. Aku hanya bisa diam membisu tanpa sepatah
kata, hanya bisa mendengar apa yang dia katakana. Oh tuhan… Hanya itu saja yang
ada dalam benakku.
***
Entah perasaan apa yang ada dalam hatiku
ini. Semua serba membingungkan. Ingin rasanya memilikinya. Tapi apa daya ?
Memang ku akui semenjak bertemu sudah sedikit ada rasa, tapi ku abaikan
begitu saja. Akan tetapi dengan seiring waktu yang berjalan. Rasa ini mulai tumbuh
begitu saja. Rasa bingung, gelisah, cemburu, kian selalu menghantui. “Kenapa
aku tidak mengatakan saja ?” Gumamku dalam hati. Oh ya, ingat niat awal, Ron!
Ingat !!! Kata hatiku. Kamu disini untuk belajar bukan untuk
bersenang-senang. Dan ingat juga seseorang yang ada disana, dia juga
menunggumu. Ah, entah lah entah. Serasa dilanda badai besar menerpa.
waktu
kian cepat berlalu….
derunya
air semakin deras mengalir…
seperti
hari-hariku yang tak menentu…
kini tinggal menghitung hari untuk menjalani sisa waktu yang ada. Apa yang kurasa saat ini. Setelah satu bulan lamanya
kumengenalnya. Sebelum akhirnya kami pulang bersama dari kampung bahasa. Kampung yang menyimpan seribu rasa sejuta kenangan diantara kita, Pare.
Tak ada sedikitpun ku mengedipkan mata ini, untuk menikmati setiap
asa yang ada. Ku teringat ketika ia terlelap di atas pundakku ini waktu perjalanan pulang bersama. Rona mata sayu kian memejamkan mata, aku hanya bisa memandanginya. Meski udara
panas, bus terasa pengap, penumpang membludak, bak seperti kandang ayam. Tapi
tak membuatku jenuh. Justru rasa bahagia selalu menemani perjalananku.
Om,, Fina sekarang di Jepara. Besoknya ke Pati. Begitulah singkat pesan SMS darinya.
Senang
atau bingung seakan mengiang-ngiang di kepala ini. Senang memang andai dia di
sini. Pasti bisa bertemu. Tapi bagaimana caranya aku izin sama Bunda, sedangkan
diriku disuruh mempersiapkan keperluan untuk kuliah ke luar negri. Sedangkan
minggu depan harus ke Jakarta.
Emm iya Dek… besok mau jalan? Balasku.
Iya lah om… Fina kan udah kangen…
Hehe… Iya. Om juga. Sekalian ada sesuatu yang ingin Om
sampaikan sama Fina.
Apa itu Om?
Udah besok aja Om kasih tau. I.Allah besok Om jemput
kalo jadi. Tapi Om ngga bisa janji
Iya Fina juga Om… semoga aja Fina dikasih izin keluar.
Rasa bingung bimbang kian bertambah. Terbayang andaikan besok bertemu.
Apa yang harus aku sampaikan kepadanya? Apakah aku harus bicara terus terang
untuk ke luar negri, ? sedangkan rasa ini sudah mulai tumbuh diantara kita. Apakah
aku harus bilang, kalau di antara kita jangan pernah ada rasa cinta. Bukankah
itu akan menyakiti hatinya ? mejadi hantaman untuknya dan tentu diriku sendiri
??? rancau gelisah seakan kepala mau pecah. Kau gimana sih Ron! kau itu gimna!!
Gumamku. Diriku seakan terhimpit oleh kamar yang terasa semakin sempit
menghimpit. Entah lah.
Matahari tampak bersinar cerah.
Embun pagi kini tampak begitu tebal.
Rasa dingin begitu terasa sampai tulang
dalam.
Burung berkicau-kicau seakan menyempurnakan pagi
ini yang begitu cerah bersahaja.
Tampak didapur Bunda sedang menyiapkan makanan untuk siap di hidangkan.
“Nak… mau kemana kamu? tumben sudah bangun jam segini. Udah rapi juga.
Biasanya jam 10 baru bangun ?” Sergah Bundaku tiba-tiba.
“Iya Bun, mas mau jalan sebentar ada urusan”
Jawabku sambil ketawa kecil.
“Kamu tu lee lee…. Ada urusan apa mau
keluyuran? Sudah kamu siapkan keperluan kamu?”
Lagi, “Kamu tu leee mbok yao jangan keluyuran terus. Disiapkan keperluanmu itu
untuk kuliah di luar negri. Dan kepindahanmu dari Jakarta” Cerocos
Bundaku.
“Iya Bunda”
Hanya itu yang bisa ku jawab sambil ku cium
pipinya, tak lupa juga bersalaman.
Tatkala di jalan, ku sempatkan diriku untuk mengirim pesan pada Fina.
“Dek, Om udah jalan. Adek siap-siap yah…”
“Iya Om, Om tunggu di masjid ya, jangan sampe ketahuan Ayah, entar bisa
berabe Om” Balasnya.
Rasa bahagia kini seakan menutupi
kagelisahanku, yah mungkin untuk ini aku harus mengatakanya. Berkata
yang sebaiknya ku katakana, tapi apa yang bisa ku katakan. Hati ini serasa tak
tega untuk berucap sesuatu kepadanya, sedih rasanya andaikan aku mesti
menyakitinya, tapi bukan maksudku seperti itu. Om sebenernya sayang sama
dirimu, Dek. Tapi apa boleh buat. Entah kapan lagi aku bisa bertemu denganmu. Om
tak mau menggantungkanmu. Om tak bisa memberi harapan lebih kepadamu.Jujur Dek,asal
kamu tau! Om sakit rasanya setelah
berkata seperti ini kepadamu! Dan sebaiknya kamu baik-baik disini masih banyak
sekali yang suka sama kamu Dek, dan yang pasti lebih dari Om tentunya.
Entah lah entah! Kenapa kamu tega dengan
orang yang kau cintai, Ron? Kenapa ? Kamu nggak kasihan sama fini? nggak
kasihan? Kamu tega meninggalkannya? Apa kamu nggak pernah berfikir andaikan
terjadi sesuatu kepadanya? Apa yang akan kau perbuat ron! Apa ??
kamu tau ? fina sanggat-sangat mencintaimu! Kamu sudah meluki hatinya ron! Kamu
sudah menyakitinya!! Perang batinku.
Rasa gelisah bingung semakin menjadi-jadi,
tak tahu apa yang musti ku perbuat. Tak ada satupun kata yang terucap ketika
pulang. Hanya lamunan dan rasa kesedihan yang ada. Rasa penyesalan juga mengiang
di kepala ini.
Tak terasa seakan seperti mimpi sudah waktunya
untukku meninggalkan negri ini. yang menyimpan berjuta kenangan bersama
keluarga sahabat dan seseorang yang pernah ada di hati ini.
Send massage, to fina; Dek..Maaf Om kalo selama ini banyak salah, sudah melukai
hatimu. Bukan maksud Om seperti itu. Sekali lagi Om minta maaf telah meyakitimu selalu membuatmu menangis,
tapi entah lah. Suatu saat nanti andai Tuhan masih memberiku umur panjang insya
Allah akan aku sempatkan untuk berjumpa denganmu, Dek. Sekali lagi maafin Om,
maaf kalo nggak pernah ngasih tahu sebelumnya, kalo Om mau hijrah, menimba ilmu
dinegri dua nile. Pesan Om, Fina baik-baik disina ya.. belajar yang rajin, jaga
diri, jangan nakal! Itu aja secuil pesan untukmu dek. Bye Bye
Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sekian.
Roni Khortoum 28/12/2013