Selasa, 16 September 2014

Cerpen Benih Kerinduan



Benih Kerinduan

Hening terasa di malam ini, begitu sepi sunyi.  Jendela-jendela terbuka lebar. Bau dan udara begitu pengap tak sedap. Kamar terlihat sempit menghimpit. Baju berserakan di atas lantai. Tempat tidur tak beratur semakin memperkeruh keadaan. Aku hanya bisa termenung sembari menengok kearah jendela. Hanya terlihat satu dua bintang tampak di langit kelam.
Hanya bisa terpengangah melihat tugas-tugas yang ada. Sambil ditemani secangkir energen yang hangat, terdengar syair-syair telah mengeluarkan alunan suara. Malam kian suram tak menentu. Aku pun hanya pasrah melihat kenyataan yang seperti ini.
Di tengah –tengah kesunyian, terlihat layar laptop kian terang bersinar seakan menghidupkan malam yang mulai kelam. “Iseng-iseng buka facebook ah biar tak jenuh Batinku dalam hati. Setelah login membaca status teman, membuka pemberitahuan, dan pesan. Tapi kosong tak ada apa-apa.
Aku pun melanjutkan belajar, terlelap dalam tugas-tugas yang ada. Tak terasa sudah 1 jam lamanya konsen sama materi-materi yang diberikan dosen. teg teg... aku tersentak kaget mendengar bunyi pesan masuk dari facebookku. Setelah mengecek.  “Fina ??? Oh tuhan..” Batinku.
# Om, Fina balik dulu ya... Selorohnya tiba-tiba
   Sebuah pesan yang membuatku terkaget untuk kedua kalinya.
* L
oh mau balik kemana, Fin? Ke pondok ? Tanyaku
# Y
a iya lah, Om… Kemana lagi kalo nggak kepondok....
#
Om, semangat ya... Imbuhnya
* Iya Dek Fina insyaAllah. Fina juga ya, baik-baik di pondok, jangan nakal...
# Ye Om mah selalu angap Fina begitu mulu. Fina sekarang kan udah gede om...
*
Hehe iya iya Fina Om mah cuma canda, dek...
Seketika, aku teringat waktu pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya.
                                                            ***
Pare, 3 Agustus 2012. Kala itu aku sedang menungu Naila di cafe black coffe,
hembusan angin kota kediri semakin nampak membekukkan jiwa.
dingin sepi sunyi menjadi satu.
seakan akan malam ini memperlihatkan keindahanya.
sorotan sinar rembulan cincin pun tampak cantik dari kejahuan.
Seolah-olah rembulan itu berkata, lihatlah aku! lihatlah aku!
Aku terduduk sendiri, ditemani gitar yang tergeletak begitu saja. Para pelayan dan pembeli berlalulalang mondar-mandir kesana kemari. Lampu terlihat redup terang. Café sangat ramai oleh pengunjung. Terlihat di tengah-tengah banyak sekali orang bermain pocker, tak laki maupun perempuan. Di pojokan sebelah kiri sana juga terlihat sedang asyik berdiskusi, dengan mahirnya mereka berdiskusi memakai Bhs. Inggris. Yah Namanya juga kampung Inggris.
Baru ku sadari sudah 30 menit aku berada di sini, ditemani secangkir cofe nescafe dan gitar yang selalu menemani kesendirianku.
Terkejut, terdengar suara riang menyapa dari belakang.
Assalamualaikum… Ron...”
Aku pun tersentak dengan kedatangannya.
“Eh Iya, ehem Nenek,, bikin kaget saja kamu !!!” Jawabku, begitulah aku selama ini memanggil Naila dengan sebutan Nenek.
“Hehesory-sory. Eh, ini kenalin temen-temenku, Arfa, Indah, dan satu lagi Fina”.Ujar Naila seraya memperkenalkan teman-temannya.
Oww hei.... Silahkan duduk, senang bisa berkenalan dan bertemu dengan kalian” Sambutku.
Setelah sekian lama aku dan mereka berbincang-bincang, main gitar bersama mereka. Akhirnya, malam kini sudah tak dapat lagi diajak bekerjasama. Malam pun mulai memadamkan keindahannya. Mereka pamit untuk kembali ke asrama, “Oh, mungkin kalau tidak ada jam malam bisa sampai subuh kali ya Batinku.
Kini hanya tinggal aku sendiri, di teras café.  Sembari memandangi sepeda-sepeda terpakir di depan sana. Dengan  pelan, ku lantunkan gitar sambil membayangkannya.  Fina!!!
Tak lama kemudian terdengar hp berdering. “Om, met bobok ya…”Satu pesan dari Fina. Begitulah sapanya padaku. Entah kenapa dia panggil diriku dengan sebutan, Om.
                                                                        ***
Pagi ini terlihat cerah dengan embun yang masih tebal....
Buku masih berserakan di seberang pojok kamar....
Hebusn anginpun masih begitu dingin...
Tak ada seorang pun yang sanggup bangun dipagi ini....
Papan tulis masih penuh dengan coretan-coretan kemaren....
Masih seperti biasanya. Tak ada yang berubah. Tak ada yang beda. Yah memang begini adanya.Suatu ketika kita jalan bersama ditemani dengan sepeda yang selalu stand by untuk menemani hari-hariku bersamanya. Memang sulit untuk mengutarakan apa yang sedang kurasa saat itu. Yah mungkin itulah sebuah kemistri yang ada.
            Canda tawanya tak pernah lepas dari raut wajahnya yang ayu. Angun memang. Kacamatanya tempak menghiasinya. Rona mata begitu tajam berkaca-kaca. Senyum manis mengurai seluruh keindahannya. Tiada hari yang ku jalani tanpanya. Hampir setiap saat ku habiskan waktu luangku bersamanya. Tak hanya pagi dan sore saja. Malam juga selalu bersamanya.
Teringat pada suatu malam. Dia pernah bercerita tentang seseorang  yang suka sama dia. Rasa hati ini seperti di iris-iris, seluruh jiwa terasa bergetar. meletup-letup bak seakan mau meledak. tapi apalah daya.  Aku hanya bisa diam membisu tanpa sepatah kata, hanya bisa mendengar apa yang dia katakana. Oh tuhan… Hanya itu saja yang ada dalam benakku.
***
Entah perasaan apa yang ada dalam hatiku ini. Semua serba membingungkan. Ingin rasanya memilikinya. Tapi apa daya ?
Memang ku akui semenjak bertemu sudah sedikit ada rasa, tapi ku abaikan begitu saja. Akan tetapi dengan seiring waktu yang berjalan. Rasa ini mulai tumbuh begitu saja. Rasa bingung, gelisah, cemburu, kian selalu menghantui. “Kenapa aku tidak mengatakan saja ?” Gumamku dalam hati. Oh ya, ingat niat awal, Ron! Ingat !!! Kata hatiku. Kamu disini untuk belajar bukan untuk bersenang-senang. Dan ingat juga seseorang yang ada disana, dia juga menunggumu. Ah, entah lah entah. Serasa dilanda badai besar menerpa.
waktu kian cepat berlalu….
derunya air semakin deras mengalir…
seperti hari-hariku yang tak menentu…         
kini tinggal menghitung hari untuk menjalani sisa waktu yang ada.  Apa yang kurasa saat ini. Setelah satu bulan lamanya kumengenalnya. Sebelum akhirnya kami pulang bersama dari kampung bahasa. Kampung yang menyimpan seribu rasa sejuta kenangan diantara kita, Pare.
Tak ada sedikitpun ku mengedipkan mata ini, untuk menikmati setiap asa yang ada. Ku teringat ketika ia terlelap di atas pundakku ini waktu perjalanan pulang bersama. Rona mata sayu kian memejamkan mata,  aku hanya bisa memandanginya. Meski udara panas, bus terasa pengap, penumpang membludak, bak seperti kandang ayam. Tapi tak membuatku jenuh. Justru rasa bahagia selalu menemani perjalananku.
Om,, Fina sekarang di Jepara. Besoknya ke Pati. Begitulah singkat pesan SMS darinya.
            Senang atau bingung seakan mengiang-ngiang di kepala ini. Senang memang andai dia di sini. Pasti bisa bertemu. Tapi bagaimana caranya aku izin sama Bunda, sedangkan diriku disuruh mempersiapkan keperluan untuk kuliah ke luar negri. Sedangkan minggu depan harus ke Jakarta.
Emm iya Dek… besok mau jalan? Balasku.
Iya lah om… Fina kan udah kangen…
Hehe… Iya. Om juga. Sekalian ada sesuatu yang ingin Om sampaikan sama Fina.
Apa itu Om?
Udah besok aja Om kasih tau. I.Allah besok Om jemput kalo jadi. Tapi Om ngga bisa janji
Iya Fina juga Om… semoga aja Fina dikasih izin keluar.
Rasa bingung bimbang kian bertambah. Terbayang andaikan besok bertemu. Apa yang harus aku sampaikan kepadanya? Apakah aku harus bicara terus terang untuk ke luar negri, ? sedangkan rasa ini sudah mulai tumbuh diantara kita. Apakah aku harus bilang, kalau di antara kita jangan pernah ada rasa cinta. Bukankah itu akan menyakiti hatinya ? mejadi hantaman untuknya dan tentu diriku sendiri ??? rancau gelisah seakan kepala mau pecah. Kau gimana sih Ron! kau itu gimna!! Gumamku. Diriku seakan terhimpit oleh kamar yang terasa semakin sempit menghimpit. Entah lah.
Matahari tampak bersinar cerah.
Embun pagi kini tampak begitu tebal.
Rasa dingin begitu terasa sampai  tulang  dalam.
Burung berkicau-kicau seakan menyempurnakan pagi ini yang begitu cerah bersahaja.
Tampak didapur Bunda sedang menyiapkan makanan untuk siap di hidangkan.
“Nak… mau kemana kamu? tumben sudah bangun jam segini. Udah rapi juga. Biasanya jam 10 baru bangun ?” Sergah Bundaku tiba-tiba.
Iya Bun, mas mau jalan sebentar ada urusanJawabku sambil ketawa kecil.
Kamu tu lee lee…. Ada urusan apa mau keluyuran? Sudah kamu siapkan keperluan kamu?”
Lagi, “Kamu tu leee mbok yao jangan keluyuran terus. Disiapkan keperluanmu itu untuk kuliah di luar negri. Dan kepindahanmu dari JakartaCerocos Bundaku.
Iya Bunda”
 Hanya itu yang bisa ku jawab sambil ku cium pipinya, tak lupa juga bersalaman.
Tatkala di jalan, ku sempatkan diriku untuk mengirim pesan pada Fina.
“Dek, Om udah jalan. Adek siap-siap yah…”
“Iya Om, Om tunggu di masjid ya, jangan sampe ketahuan Ayah, entar bisa berabe Om” Balasnya.
Rasa bahagia kini seakan menutupi kagelisahanku, yah mungkin untuk ini aku harus mengatakanya. Berkata yang sebaiknya ku katakana, tapi apa yang bisa ku katakan. Hati ini serasa tak tega untuk berucap sesuatu kepadanya, sedih rasanya andaikan aku mesti menyakitinya, tapi bukan maksudku seperti itu. Om sebenernya sayang sama dirimu, Dek. Tapi apa boleh buat. Entah kapan lagi aku bisa bertemu denganmu. Om tak mau menggantungkanmu. Om tak bisa memberi harapan lebih kepadamu.Jujur Dek,asal kamu tau! Om sakit  rasanya setelah berkata seperti ini kepadamu! Dan sebaiknya kamu baik-baik disini masih banyak sekali yang suka sama kamu Dek, dan yang pasti lebih dari Om tentunya.
Entah lah entah! Kenapa kamu tega dengan orang yang kau cintai, Ron? Kenapa ? Kamu nggak kasihan sama fini? nggak kasihan? Kamu tega meninggalkannya? Apa kamu nggak pernah berfikir andaikan terjadi sesuatu kepadanya? Apa yang akan kau perbuat ron! Apa ?? kamu tau ? fina sanggat-sangat mencintaimu! Kamu sudah meluki hatinya ron! Kamu sudah menyakitinya!! Perang batinku.
Rasa gelisah bingung semakin menjadi-jadi, tak tahu apa yang musti ku perbuat. Tak ada satupun kata yang terucap ketika pulang. Hanya lamunan dan rasa kesedihan yang ada. Rasa penyesalan juga mengiang di kepala ini.
Tak terasa seakan seperti mimpi sudah waktunya untukku meninggalkan negri ini. yang menyimpan berjuta kenangan bersama keluarga sahabat dan seseorang yang pernah ada di hati ini.
Send massage, to fina; Dek..Maaf  Om kalo selama ini banyak salah, sudah melukai hatimu. Bukan maksud Om seperti itu. Sekali lagi Om minta maaf  telah meyakitimu selalu membuatmu menangis, tapi entah lah. Suatu saat nanti andai Tuhan masih memberiku umur panjang insya Allah akan aku sempatkan untuk berjumpa denganmu, Dek. Sekali lagi maafin Om, maaf kalo nggak pernah ngasih tahu sebelumnya, kalo Om mau hijrah, menimba ilmu dinegri dua nile. Pesan Om, Fina baik-baik disina ya.. belajar yang rajin, jaga diri, jangan nakal! Itu aja secuil pesan untukmu dek. Bye Bye

Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sekian.
                                                                                                Roni    Khortoum 28/12/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar