Sabtu, 11 Oktober 2014

15 September 2014 Khartoum Sudan.

Tepat pada hari senin pagi kami mahasiswa angkatan 2014 Sudan mengadakan rihlah / wisata ke daerah Bajrowia, di sana terdapat sebuah peningalan sejarah Raja firaun yang sempat menginjakkan kakinya untuk menjajah negara Sudan.
Kami berangkat dari ibukota Khortoum Sudan pada pukul 09.00 sebelum keberangkatan, kami sudah menyiapkan berbagai bekal makanan selama diperjalanan, diantaranya air minum dua galon satu khafadhoh (termos besar) berisi minuman dingin karena cuaca yang sangat panas dan perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih empat jam. selain minuman,kami juga membawa makanan untuk makan siang.

Selama di perjalanan, kami di suguhi bentangan luas pemandangan gurun pasir dan bebatuan terjal seperti gunung yang berada di sisi kanan dan kiri jalan.

Berikut foto-foto kami selama berada di sana :   








 

Selasa, 16 September 2014

Catatan Pimred



Pentingnya Seorang Pemimpin Dalam Sebuah Kelompok

            Membicarakan sosok pemimpin yang ideal untuk masa depan, perlu kita ketahui bahwa sosok pemimpin harus bisa dijadikan contoh atau patokan bagi yang dipimpinnya, oleh karenanya sosok pemimpin harus mempunyai tangung jawab dan  jiwa sosial yang peka terhadap semua permasalahan.

            Pentingnya sosok pemimpinan untuk sebuah kelompok, adalah suatu kebutuhan yang tidak bisa dipungkiri, maka dari itu kita membutuhkan  pemimpin yang ideal, arif, dan bijaksana. seperti sosok pemimpin umat Islam yang terakhir, yaitu baginda Nabi Muhammad SAW,  yang mana sosok beliau menjadi figur bagi umat islam khususnya, dan beliau bukan hanya menjadi sosok figur atau tokoh pemimpin umat islam, akan tetapi beliau juga seorang figur kepemimpinan dalam bernegara.

            Seperti pemaparan yang ada didepan, atau yang biasa kita kaetahui, sosok Nabi Muhammad SAW mempunyai sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatonah. dari situ kita bisa mengambil pelajaran bagi kita, untuk mencari atau pandai dalam memilih seorang pemimpin yang ideal bagi sebuah kelompok tertentu, demi kemajuan suatu kelompok tersebut.

            Seperti kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun, Ketika  Nabi Musa AS meninggalkan umatnya dan tongkat kepemimpinan diserahkan sementara kepada Nabi Harun, akan tetapi pada kenyataanya Nabi Harun tidak bisa memimpin umat Nabi Musa AS, dan pada akhirnya mereka kaum Nabi Musa AS berpindah menyembah Pedet (Anak Sapi).

            Dari situ kita bisa mengambil ibroh, bahwa pemimpin itu sangat penting sekali bagi setiap-setiap kelompok, pemimpin bukan hanya memimpin, akan tetapi harus bisa mengatur kelompok tersebut, dan tidak mengatur saja, bahkan harus bias menjadi suri tauladan bagi yang dipimpin.

            Terdapat juga TOKOH DUNIA yang paling inspiratif, diantaranya yaitu JOHN F KENNEDY adalah seorang tokoh yang sangat populer di era perang Dunia, John juga menjadi panutan bagi para pemimpin-pemimpin Amerika Serikat waktu itu, John juga dikenal sosok yang tegas, bijaksana dan pandai mengunakan otaknya, NAPOLEON BONAPARTE  dikenal sebagai sosok penuh dengan keadilan, hanya bermodalkan semangat, kepercayaan, serta keikhlasan, hinga kini Napolean masih sangat dikenal sebagai penahluk Perancis dan panutan para pemimpin militer hingga kini.

Nah itu tadi adalah sebagian contoh pemimpin dunia yang sangat terkenal hingga kini, namun masih ada pemimpin satu lagi, sosok pemimpin yang hampir mirip mengikuti prilaku Nabi Muhammad SAW. Yaitu MUHAMMAD AHMADINEJAD sosok presiden iran ke 6 yang dikenal dengan kesederhanaanya, pemimpin yang berkorban hanya untuk rakyatnya tanpa memikirkan kemewahan, satu-satunya presiden yang sangat merakyat di era modern ini.

Dari semua penjelasan diatas tadi, kita bias mengambil sebuah pelajaran, bagaimana pentingnya seorang pemimpin bagi setiap kelompok, bukan hanya pintar, pintar saja belum cukup  menjadi patokan untuk memimpin sebuah kelompok, akan tetapi sosok pemimpin juga butuh ketegasan, merakyat, dan terlebih lagi jujur dapat dipercaya. // M Khoironi H

Cerpen Siluet Senja Kerinduan



Siluet Senja Kerinduan
Gerimis sambangi gurun tandus sore ini...
Dalam dinginnya waktu, angin bimbing aroma pasir basah masuki celah jendela berdebu.
Mestinya ku biarkan saja ia basuh relung waktu.
Namun saat ku tatap sang langit biru, ia menjelma kelabu...
Tak ada yg dapat dibaginya kecuali keheningan.
Dan aku pun beringsut di peraduan untuk mengingatmu....

Goresan penaku terhenti, entah mengapa, tak seperti biasanya ia enggan menari. Mungkin karena kelebat bayang waktu sesaat menampakkan jati dirinya. Hmm, memang ada saatnya wangi kenangan membawa haru biru suasana hati.

Kuedarkan pandangan sekeliling kamar. Sepi. Sunyi. Lalu ku tergelak. Bukankah memang begini keadaannya setiap hari? Kalau saja tak ada buku dan baju yang berserakan di setiap pojok, takkan ada yang percaya kamar ini dihuni oleh manusia. Seluruh penghuni kamar ini memiliki dunianya sendiri-sendiri diluar sana. Seluruhnya. Enggan mereka terkungkung dalam pengap. Siapa juga yang rela?
Sudahlah. Apa pula urusanku dengan mereka. Justru karena itulah ku memilih tempat ini. Tempat yang sempurna untuk sejenak mencurahkan isi hati. Kini ku benar-benar dipasung sebuah perasaan yang menghimpit jiwa. Akan ku ungkap semua yang kurasa. Biar jelas semua. Biar lega. Lalu bagaimana cara mengirimkan kepadanya? Ah, itu dipikirkan nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah memberi ruang untuk jiwaku berkata.

Sembari memainkan pena ditangan, sejenak ku terpekur, bertopang dagu, menatap langit melalui jendela tepat disebelah meja. Arak-arakan awan putih yang berjalan perlahan diatas sana menggurat sebentuk wajah. Seketika batinku berbisik sebuah nama, Anis Nur Husna.
***
“Kamu Anis?”
“Iya, aku Anis. Anis Nur Husna”
“Oh. masak? Yang kemarin sms itu yah? Ah, aku tak percaya”
“Ih, beneran Roni...! Tanya saja teman-teman!”

Tak terasa senyuman tersungging dibibir ketika momen itu terpampang jelas di depan mataku. Sesaat namun seperti selamanya, batinku.

“Aku akan memanggilmu Jumi saja. Lebih mudah diingat daripada nama aslimu”
“Dasar, seenaknya saja. Kalau begitu kamu akan kupanggil Ronce. Huh..”
“Jumi.., sini Jumi.. hehe”
“Ronce..Ronceeee..!!!”

Hari-hari yang berlalu kembali mengalir dalam ingatanku. Canda-tawa itu, beserta haru-birunya. Indah. Sesaat suasana kamarku menjelma cerah. Sesaat. Hanya sesaat. Karena sedetik kemudian kabut gelap kenyataan tiba memuramkan warna yang telah ada. Ya, memang begitu realitanya, tak ada yang benar-benar kumiliki saat ini kecuali kenangan.

Seperti berjelaga jika ku sendiri. Menyedihkan rasanya, ucapan Dian Sastro yang dulu selalu kutertawakan itu kini terngiang-ngiang di telingaku. Dan ternyata baru kusadari saat ini rasanya. Sepi. Aku benci. Dan siapakah yang kuasa bertahan dalam pelukannya? Dalam momen seperti ini, tenggelam dalam kenangan indah rasanya lebih kusukai. Daripada harus berkubang dalam realita yang tak benar-benar kuharapkan ada.

“Kamu horor banget sih Jumi”
“Kenapa?”
“Pokoknya horor”
“Huh..”

Kembali ku terkekeh geli mengingat rona mukanya yang cemberut tiap kali ku sebut ia “horor”. Sederhana saja, bayangnya selalu menghantui hari-hariku. Andai saja ia tahu itu. Namun kelu rasanya lidah untuk mengakuinya. Maka kusebut dirinya horor. Bukankah hantu identik dengan horor? Ah, aku dan pikiran sederhanaku.

Jalan-jalan yang dulu kami lalui, tempat-tempat yang sempat tersinggahi, memanggil-manggil. Menawarkan kenangan. Menawarkan cerita. Kembali penaku menggores kata.

 Mengingatmu adalah ketenangan...
Layaknya gerimis diluar sana, membelai lembut dedaunan, luruhkan debu yg kotori hijaunya.
Mengingatmu merapuhkan rindu...
Bimbang terombang-ambing dalam badai ketidak-berdayaan. 
Mengingatmu...
Ah...

Sekali lagi tanganku terhenti. Kutarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengais lebih dalam puing-puing memori yang tersisa. Ragu-ragu, tanganku seakan hendak bergerak namun kembali terhenti. Sedikit rasa sesal meliputi hati. Kenapa tak kukatakan saja saat itu perasaanku, saat aku dekat denganmu, bisikku lemah. Ah, bahkan dalam tulisan pun susah sekali perasaan ini terungkap. Lamat-lamat terdengar batinku memaki-maki. Entah kepada siapa makian itu tertuju. Kepadaku?
 Bodoh! Pengecut! Jika rasamu hakiki, tentu kan kau perjuangkan sepenuh hati. Lihat dirimu! Bahkan untuk berkata saja kau tak mampu. Kau hanya membodohi dirimu. Perasaanmu palsu! Cecar batin...pada diriku. “Andai saja sesederhana itu!” Teriakku, sendiri.

“Ya! Aku menyukainya sejak mula mataku bertatap matanya. Ya! Aku tak pernah bisa mengungkapnya! Tapi saat ini akan ku lakukan itu!” Masih, ku meracau sendiri, beradu argumen dengan hati.

Langit menghitam jelaga hingga ufuk, sadarkan kesunyian akan jiwa terpuruk...
Yah...
Kesendirian adalah jati diriku sejak dulu.
Kedamaian penuh yg tak seorang pun kuasa merenggutnya.
Betapa indah ku rangkai hidup dari ketiadaan, disangga ranting-ranting sepi.
Kini roboh menjadi puing-puing kata yang tengah kukirim untukmu.

Tiba-tiba segurat wajah tergambar dalam rangkaian kata yang sedang ku eja. Wajah seseorang yang begitu ku cinta. Wajah Ibuku. Lirih wejangannya pun masih terdengar begitu jelas. Adegan di ruang makan malam itu tersaji didepan mata.

“Nak, ibu ingin kau melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi. Ke sebuah negeri yang penuh mutiara ilmu.”
“Apakah.... itu berarti aku harus meninggalkan negeri ini? Untuk berapa lama?”
“Ada ragu dalam suaramu, nak. Mengapa?”

Hening beberapa saat. Ibu menghela nafas panjang. Lalu seakan dapat membaca lubuk hatiku ia memecah keheningan.

“Adakah seseorang yang telah memiliki hatimu, nak?”
Dan masih, keheningan menjadi jawabanku.
“Kau masih muda, anakku. Gapailah cita. Sedangkan cinta, pasti akan datang pada waktunya. Gadis itu, siapapun ia, jika benar-benar ditakdirkan untukmu pastilah akan menunggumu hingga kau kembali nanti.Yakinlah, tulang rusukmu takkan tertukar.”

Kemudian, secara berurutan, wejangan para guruku melintas, seakan berusaha menarik jiwaku yang sedang melayang dalam angan turun kembali ke bumi.
“Carilah agama, maka NANTI, PADA AKHIRNYA, akan kau dapati pula dunia seisinya.” Merdu suara Abah Yasir mengalun. Disusul Suara penuh wibawa Abi Syafi’uddin “Apapun keinginan ibumu, turutilah. keridhoan ibumu adalah juga ridho Tuhanmu. Dan dalam keridhoan Tuhanmu lah kebahagiaan hakiki kau raih”

Tanganku bergetar. Sepertinya kesadaran mulai memenuhi kalbu. Apa lagi yang hendak ku tulis? Kadang ketika mata menjadi gelap, kita melakukan hal-hal bodoh nan konyol yang pada akhirnya akan kita tertawakan sendiri. Aku tersenyum malu. Sang pena menangkap kecanggunganku, lalu mulai menyusun kata baru.

Fikiran tak menentu, ditingkahi suara hujan yg semakin merdu.
Tetap saja tak mampu ku pahami bahasanya, tak terjamah, seperti benakmu...
Bukan karena engkau begitu jauh...
Mungkin laju sang waktu menggiring samar selimuti keberadaanku yg kian tak berarti. 
Maka ku terima saja ejek rintik hujan itu dengan pasrah.
Bahkan tak sempat kusebut namamu. Engkau terlalu cepat berlalu.
Layaknya embun menetes di padang tandus.
Tinggalkan sang musafir mengeja kata rancu diatas lembaran debu pupus.

Akupun tersenyum simpul. Menertawakan diri yang terkadang larut dalam kerinduan kosong. Ceritaku takkan pernah usai, bagaimana bisa sedang ia belum lagi dimulai. Kulirik jam kesayanganku dengan malas, jarum menunjuk angka tiga dan sepuluh, kelas sore sebentar lagi dimulai, batinku. Bergegas jariku kembali sibuk mencorat-coret kertas lusuh ini, menyelesaikan apa yang telah ia awali.

Selesai sudah. Sekedar ungkapan rasa yang sederhana tentang dia dan keberadaanya yang jauh disana. Tentang realita kehidupan yang tak semata hitam dan putih. Tidak juga semata ya atau tidak. Karena sungguh, dalam pertemuan hitam dan putih itu terdapat warna kelabu. Disana lah duniaku. Selesai sudah. Semua telah terucap dan terungkap. Kau, jika benar tulang rusukku, tentu akan selalu dalam penjagaanNya sampai waktuku tiba. Maka untuk apa aku menghawatirkanmu, bukankah Ia Sang Maha Penjaga? Dan untuk apa aku terburu jika memang belum tiba masanya?
Baiklah, kutitip saja salam rindu lewat Tuhanku, kepadanya, siapa pun ia, sang belahan jiwa. Tentu kalamNya jauh lebih indah dan bermakna. Kuremas kertas penuh coretan itu lalu kulemparkan dengan mantab ke tempat sampah disebelah meja. Sambil beranjak menuju pintu, lirih kulantunkan beberapa larik terakhir yang kutulis sebagai penutup coretan lusuhku...

Awan hitam berarak menjauh.
Hujan terlalu cepat berlari.
Padahal masih banyak yg akan kutulis tentang engkau dan keberadaanmu yg entah kemana pergi.
Atau memang baiknya aku yg pergi dari keberadaanmu. Bunuh satu persatu rindu...
Akhirnya, kuremas kata diatas lembaran hujan itu.
Lembaran kata yg terangkai untukmu.
Dengan berat, ku asingkan ia di relung waktu.
Karena ku sadar...
Semua pasti ada waktunya. Dan saat ini, bukan...

*Terimakasih, untuk dia yang menjadi sumber inspirasiku

                                                                                    Roni. Khartoum, 20 Maret 2013

Cerpen Benih Kerinduan



Benih Kerinduan

Hening terasa di malam ini, begitu sepi sunyi.  Jendela-jendela terbuka lebar. Bau dan udara begitu pengap tak sedap. Kamar terlihat sempit menghimpit. Baju berserakan di atas lantai. Tempat tidur tak beratur semakin memperkeruh keadaan. Aku hanya bisa termenung sembari menengok kearah jendela. Hanya terlihat satu dua bintang tampak di langit kelam.
Hanya bisa terpengangah melihat tugas-tugas yang ada. Sambil ditemani secangkir energen yang hangat, terdengar syair-syair telah mengeluarkan alunan suara. Malam kian suram tak menentu. Aku pun hanya pasrah melihat kenyataan yang seperti ini.
Di tengah –tengah kesunyian, terlihat layar laptop kian terang bersinar seakan menghidupkan malam yang mulai kelam. “Iseng-iseng buka facebook ah biar tak jenuh Batinku dalam hati. Setelah login membaca status teman, membuka pemberitahuan, dan pesan. Tapi kosong tak ada apa-apa.
Aku pun melanjutkan belajar, terlelap dalam tugas-tugas yang ada. Tak terasa sudah 1 jam lamanya konsen sama materi-materi yang diberikan dosen. teg teg... aku tersentak kaget mendengar bunyi pesan masuk dari facebookku. Setelah mengecek.  “Fina ??? Oh tuhan..” Batinku.
# Om, Fina balik dulu ya... Selorohnya tiba-tiba
   Sebuah pesan yang membuatku terkaget untuk kedua kalinya.
* L
oh mau balik kemana, Fin? Ke pondok ? Tanyaku
# Y
a iya lah, Om… Kemana lagi kalo nggak kepondok....
#
Om, semangat ya... Imbuhnya
* Iya Dek Fina insyaAllah. Fina juga ya, baik-baik di pondok, jangan nakal...
# Ye Om mah selalu angap Fina begitu mulu. Fina sekarang kan udah gede om...
*
Hehe iya iya Fina Om mah cuma canda, dek...
Seketika, aku teringat waktu pertama kali bertemu dan berkenalan dengannya.
                                                            ***
Pare, 3 Agustus 2012. Kala itu aku sedang menungu Naila di cafe black coffe,
hembusan angin kota kediri semakin nampak membekukkan jiwa.
dingin sepi sunyi menjadi satu.
seakan akan malam ini memperlihatkan keindahanya.
sorotan sinar rembulan cincin pun tampak cantik dari kejahuan.
Seolah-olah rembulan itu berkata, lihatlah aku! lihatlah aku!
Aku terduduk sendiri, ditemani gitar yang tergeletak begitu saja. Para pelayan dan pembeli berlalulalang mondar-mandir kesana kemari. Lampu terlihat redup terang. Café sangat ramai oleh pengunjung. Terlihat di tengah-tengah banyak sekali orang bermain pocker, tak laki maupun perempuan. Di pojokan sebelah kiri sana juga terlihat sedang asyik berdiskusi, dengan mahirnya mereka berdiskusi memakai Bhs. Inggris. Yah Namanya juga kampung Inggris.
Baru ku sadari sudah 30 menit aku berada di sini, ditemani secangkir cofe nescafe dan gitar yang selalu menemani kesendirianku.
Terkejut, terdengar suara riang menyapa dari belakang.
Assalamualaikum… Ron...”
Aku pun tersentak dengan kedatangannya.
“Eh Iya, ehem Nenek,, bikin kaget saja kamu !!!” Jawabku, begitulah aku selama ini memanggil Naila dengan sebutan Nenek.
“Hehesory-sory. Eh, ini kenalin temen-temenku, Arfa, Indah, dan satu lagi Fina”.Ujar Naila seraya memperkenalkan teman-temannya.
Oww hei.... Silahkan duduk, senang bisa berkenalan dan bertemu dengan kalian” Sambutku.
Setelah sekian lama aku dan mereka berbincang-bincang, main gitar bersama mereka. Akhirnya, malam kini sudah tak dapat lagi diajak bekerjasama. Malam pun mulai memadamkan keindahannya. Mereka pamit untuk kembali ke asrama, “Oh, mungkin kalau tidak ada jam malam bisa sampai subuh kali ya Batinku.
Kini hanya tinggal aku sendiri, di teras cafĂ©.  Sembari memandangi sepeda-sepeda terpakir di depan sana. Dengan  pelan, ku lantunkan gitar sambil membayangkannya.  Fina!!!
Tak lama kemudian terdengar hp berdering. “Om, met bobok ya…”Satu pesan dari Fina. Begitulah sapanya padaku. Entah kenapa dia panggil diriku dengan sebutan, Om.
                                                                        ***
Pagi ini terlihat cerah dengan embun yang masih tebal....
Buku masih berserakan di seberang pojok kamar....
Hebusn anginpun masih begitu dingin...
Tak ada seorang pun yang sanggup bangun dipagi ini....
Papan tulis masih penuh dengan coretan-coretan kemaren....
Masih seperti biasanya. Tak ada yang berubah. Tak ada yang beda. Yah memang begini adanya.Suatu ketika kita jalan bersama ditemani dengan sepeda yang selalu stand by untuk menemani hari-hariku bersamanya. Memang sulit untuk mengutarakan apa yang sedang kurasa saat itu. Yah mungkin itulah sebuah kemistri yang ada.
            Canda tawanya tak pernah lepas dari raut wajahnya yang ayu. Angun memang. Kacamatanya tempak menghiasinya. Rona mata begitu tajam berkaca-kaca. Senyum manis mengurai seluruh keindahannya. Tiada hari yang ku jalani tanpanya. Hampir setiap saat ku habiskan waktu luangku bersamanya. Tak hanya pagi dan sore saja. Malam juga selalu bersamanya.
Teringat pada suatu malam. Dia pernah bercerita tentang seseorang  yang suka sama dia. Rasa hati ini seperti di iris-iris, seluruh jiwa terasa bergetar. meletup-letup bak seakan mau meledak. tapi apalah daya.  Aku hanya bisa diam membisu tanpa sepatah kata, hanya bisa mendengar apa yang dia katakana. Oh tuhan… Hanya itu saja yang ada dalam benakku.
***
Entah perasaan apa yang ada dalam hatiku ini. Semua serba membingungkan. Ingin rasanya memilikinya. Tapi apa daya ?
Memang ku akui semenjak bertemu sudah sedikit ada rasa, tapi ku abaikan begitu saja. Akan tetapi dengan seiring waktu yang berjalan. Rasa ini mulai tumbuh begitu saja. Rasa bingung, gelisah, cemburu, kian selalu menghantui. “Kenapa aku tidak mengatakan saja ?” Gumamku dalam hati. Oh ya, ingat niat awal, Ron! Ingat !!! Kata hatiku. Kamu disini untuk belajar bukan untuk bersenang-senang. Dan ingat juga seseorang yang ada disana, dia juga menunggumu. Ah, entah lah entah. Serasa dilanda badai besar menerpa.
waktu kian cepat berlalu….
derunya air semakin deras mengalir…
seperti hari-hariku yang tak menentu…         
kini tinggal menghitung hari untuk menjalani sisa waktu yang ada.  Apa yang kurasa saat ini. Setelah satu bulan lamanya kumengenalnya. Sebelum akhirnya kami pulang bersama dari kampung bahasa. Kampung yang menyimpan seribu rasa sejuta kenangan diantara kita, Pare.
Tak ada sedikitpun ku mengedipkan mata ini, untuk menikmati setiap asa yang ada. Ku teringat ketika ia terlelap di atas pundakku ini waktu perjalanan pulang bersama. Rona mata sayu kian memejamkan mata,  aku hanya bisa memandanginya. Meski udara panas, bus terasa pengap, penumpang membludak, bak seperti kandang ayam. Tapi tak membuatku jenuh. Justru rasa bahagia selalu menemani perjalananku.
Om,, Fina sekarang di Jepara. Besoknya ke Pati. Begitulah singkat pesan SMS darinya.
            Senang atau bingung seakan mengiang-ngiang di kepala ini. Senang memang andai dia di sini. Pasti bisa bertemu. Tapi bagaimana caranya aku izin sama Bunda, sedangkan diriku disuruh mempersiapkan keperluan untuk kuliah ke luar negri. Sedangkan minggu depan harus ke Jakarta.
Emm iya Dek… besok mau jalan? Balasku.
Iya lah om… Fina kan udah kangen…
Hehe… Iya. Om juga. Sekalian ada sesuatu yang ingin Om sampaikan sama Fina.
Apa itu Om?
Udah besok aja Om kasih tau. I.Allah besok Om jemput kalo jadi. Tapi Om ngga bisa janji
Iya Fina juga Om… semoga aja Fina dikasih izin keluar.
Rasa bingung bimbang kian bertambah. Terbayang andaikan besok bertemu. Apa yang harus aku sampaikan kepadanya? Apakah aku harus bicara terus terang untuk ke luar negri, ? sedangkan rasa ini sudah mulai tumbuh diantara kita. Apakah aku harus bilang, kalau di antara kita jangan pernah ada rasa cinta. Bukankah itu akan menyakiti hatinya ? mejadi hantaman untuknya dan tentu diriku sendiri ??? rancau gelisah seakan kepala mau pecah. Kau gimana sih Ron! kau itu gimna!! Gumamku. Diriku seakan terhimpit oleh kamar yang terasa semakin sempit menghimpit. Entah lah.
Matahari tampak bersinar cerah.
Embun pagi kini tampak begitu tebal.
Rasa dingin begitu terasa sampai  tulang  dalam.
Burung berkicau-kicau seakan menyempurnakan pagi ini yang begitu cerah bersahaja.
Tampak didapur Bunda sedang menyiapkan makanan untuk siap di hidangkan.
“Nak… mau kemana kamu? tumben sudah bangun jam segini. Udah rapi juga. Biasanya jam 10 baru bangun ?” Sergah Bundaku tiba-tiba.
Iya Bun, mas mau jalan sebentar ada urusanJawabku sambil ketawa kecil.
Kamu tu lee lee…. Ada urusan apa mau keluyuran? Sudah kamu siapkan keperluan kamu?”
Lagi, “Kamu tu leee mbok yao jangan keluyuran terus. Disiapkan keperluanmu itu untuk kuliah di luar negri. Dan kepindahanmu dari JakartaCerocos Bundaku.
Iya Bunda”
 Hanya itu yang bisa ku jawab sambil ku cium pipinya, tak lupa juga bersalaman.
Tatkala di jalan, ku sempatkan diriku untuk mengirim pesan pada Fina.
“Dek, Om udah jalan. Adek siap-siap yah…”
“Iya Om, Om tunggu di masjid ya, jangan sampe ketahuan Ayah, entar bisa berabe Om” Balasnya.
Rasa bahagia kini seakan menutupi kagelisahanku, yah mungkin untuk ini aku harus mengatakanya. Berkata yang sebaiknya ku katakana, tapi apa yang bisa ku katakan. Hati ini serasa tak tega untuk berucap sesuatu kepadanya, sedih rasanya andaikan aku mesti menyakitinya, tapi bukan maksudku seperti itu. Om sebenernya sayang sama dirimu, Dek. Tapi apa boleh buat. Entah kapan lagi aku bisa bertemu denganmu. Om tak mau menggantungkanmu. Om tak bisa memberi harapan lebih kepadamu.Jujur Dek,asal kamu tau! Om sakit  rasanya setelah berkata seperti ini kepadamu! Dan sebaiknya kamu baik-baik disini masih banyak sekali yang suka sama kamu Dek, dan yang pasti lebih dari Om tentunya.
Entah lah entah! Kenapa kamu tega dengan orang yang kau cintai, Ron? Kenapa ? Kamu nggak kasihan sama fini? nggak kasihan? Kamu tega meninggalkannya? Apa kamu nggak pernah berfikir andaikan terjadi sesuatu kepadanya? Apa yang akan kau perbuat ron! Apa ?? kamu tau ? fina sanggat-sangat mencintaimu! Kamu sudah meluki hatinya ron! Kamu sudah menyakitinya!! Perang batinku.
Rasa gelisah bingung semakin menjadi-jadi, tak tahu apa yang musti ku perbuat. Tak ada satupun kata yang terucap ketika pulang. Hanya lamunan dan rasa kesedihan yang ada. Rasa penyesalan juga mengiang di kepala ini.
Tak terasa seakan seperti mimpi sudah waktunya untukku meninggalkan negri ini. yang menyimpan berjuta kenangan bersama keluarga sahabat dan seseorang yang pernah ada di hati ini.
Send massage, to fina; Dek..Maaf  Om kalo selama ini banyak salah, sudah melukai hatimu. Bukan maksud Om seperti itu. Sekali lagi Om minta maaf  telah meyakitimu selalu membuatmu menangis, tapi entah lah. Suatu saat nanti andai Tuhan masih memberiku umur panjang insya Allah akan aku sempatkan untuk berjumpa denganmu, Dek. Sekali lagi maafin Om, maaf kalo nggak pernah ngasih tahu sebelumnya, kalo Om mau hijrah, menimba ilmu dinegri dua nile. Pesan Om, Fina baik-baik disina ya.. belajar yang rajin, jaga diri, jangan nakal! Itu aja secuil pesan untukmu dek. Bye Bye

Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sekian.
                                                                                                Roni    Khortoum 28/12/2013