Selasa, 16 September 2014

Cerpen Siluet Senja Kerinduan



Siluet Senja Kerinduan
Gerimis sambangi gurun tandus sore ini...
Dalam dinginnya waktu, angin bimbing aroma pasir basah masuki celah jendela berdebu.
Mestinya ku biarkan saja ia basuh relung waktu.
Namun saat ku tatap sang langit biru, ia menjelma kelabu...
Tak ada yg dapat dibaginya kecuali keheningan.
Dan aku pun beringsut di peraduan untuk mengingatmu....

Goresan penaku terhenti, entah mengapa, tak seperti biasanya ia enggan menari. Mungkin karena kelebat bayang waktu sesaat menampakkan jati dirinya. Hmm, memang ada saatnya wangi kenangan membawa haru biru suasana hati.

Kuedarkan pandangan sekeliling kamar. Sepi. Sunyi. Lalu ku tergelak. Bukankah memang begini keadaannya setiap hari? Kalau saja tak ada buku dan baju yang berserakan di setiap pojok, takkan ada yang percaya kamar ini dihuni oleh manusia. Seluruh penghuni kamar ini memiliki dunianya sendiri-sendiri diluar sana. Seluruhnya. Enggan mereka terkungkung dalam pengap. Siapa juga yang rela?
Sudahlah. Apa pula urusanku dengan mereka. Justru karena itulah ku memilih tempat ini. Tempat yang sempurna untuk sejenak mencurahkan isi hati. Kini ku benar-benar dipasung sebuah perasaan yang menghimpit jiwa. Akan ku ungkap semua yang kurasa. Biar jelas semua. Biar lega. Lalu bagaimana cara mengirimkan kepadanya? Ah, itu dipikirkan nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah memberi ruang untuk jiwaku berkata.

Sembari memainkan pena ditangan, sejenak ku terpekur, bertopang dagu, menatap langit melalui jendela tepat disebelah meja. Arak-arakan awan putih yang berjalan perlahan diatas sana menggurat sebentuk wajah. Seketika batinku berbisik sebuah nama, Anis Nur Husna.
***
“Kamu Anis?”
“Iya, aku Anis. Anis Nur Husna”
“Oh. masak? Yang kemarin sms itu yah? Ah, aku tak percaya”
“Ih, beneran Roni...! Tanya saja teman-teman!”

Tak terasa senyuman tersungging dibibir ketika momen itu terpampang jelas di depan mataku. Sesaat namun seperti selamanya, batinku.

“Aku akan memanggilmu Jumi saja. Lebih mudah diingat daripada nama aslimu”
“Dasar, seenaknya saja. Kalau begitu kamu akan kupanggil Ronce. Huh..”
“Jumi.., sini Jumi.. hehe”
“Ronce..Ronceeee..!!!”

Hari-hari yang berlalu kembali mengalir dalam ingatanku. Canda-tawa itu, beserta haru-birunya. Indah. Sesaat suasana kamarku menjelma cerah. Sesaat. Hanya sesaat. Karena sedetik kemudian kabut gelap kenyataan tiba memuramkan warna yang telah ada. Ya, memang begitu realitanya, tak ada yang benar-benar kumiliki saat ini kecuali kenangan.

Seperti berjelaga jika ku sendiri. Menyedihkan rasanya, ucapan Dian Sastro yang dulu selalu kutertawakan itu kini terngiang-ngiang di telingaku. Dan ternyata baru kusadari saat ini rasanya. Sepi. Aku benci. Dan siapakah yang kuasa bertahan dalam pelukannya? Dalam momen seperti ini, tenggelam dalam kenangan indah rasanya lebih kusukai. Daripada harus berkubang dalam realita yang tak benar-benar kuharapkan ada.

“Kamu horor banget sih Jumi”
“Kenapa?”
“Pokoknya horor”
“Huh..”

Kembali ku terkekeh geli mengingat rona mukanya yang cemberut tiap kali ku sebut ia “horor”. Sederhana saja, bayangnya selalu menghantui hari-hariku. Andai saja ia tahu itu. Namun kelu rasanya lidah untuk mengakuinya. Maka kusebut dirinya horor. Bukankah hantu identik dengan horor? Ah, aku dan pikiran sederhanaku.

Jalan-jalan yang dulu kami lalui, tempat-tempat yang sempat tersinggahi, memanggil-manggil. Menawarkan kenangan. Menawarkan cerita. Kembali penaku menggores kata.

 Mengingatmu adalah ketenangan...
Layaknya gerimis diluar sana, membelai lembut dedaunan, luruhkan debu yg kotori hijaunya.
Mengingatmu merapuhkan rindu...
Bimbang terombang-ambing dalam badai ketidak-berdayaan. 
Mengingatmu...
Ah...

Sekali lagi tanganku terhenti. Kutarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengais lebih dalam puing-puing memori yang tersisa. Ragu-ragu, tanganku seakan hendak bergerak namun kembali terhenti. Sedikit rasa sesal meliputi hati. Kenapa tak kukatakan saja saat itu perasaanku, saat aku dekat denganmu, bisikku lemah. Ah, bahkan dalam tulisan pun susah sekali perasaan ini terungkap. Lamat-lamat terdengar batinku memaki-maki. Entah kepada siapa makian itu tertuju. Kepadaku?
 Bodoh! Pengecut! Jika rasamu hakiki, tentu kan kau perjuangkan sepenuh hati. Lihat dirimu! Bahkan untuk berkata saja kau tak mampu. Kau hanya membodohi dirimu. Perasaanmu palsu! Cecar batin...pada diriku. “Andai saja sesederhana itu!” Teriakku, sendiri.

“Ya! Aku menyukainya sejak mula mataku bertatap matanya. Ya! Aku tak pernah bisa mengungkapnya! Tapi saat ini akan ku lakukan itu!” Masih, ku meracau sendiri, beradu argumen dengan hati.

Langit menghitam jelaga hingga ufuk, sadarkan kesunyian akan jiwa terpuruk...
Yah...
Kesendirian adalah jati diriku sejak dulu.
Kedamaian penuh yg tak seorang pun kuasa merenggutnya.
Betapa indah ku rangkai hidup dari ketiadaan, disangga ranting-ranting sepi.
Kini roboh menjadi puing-puing kata yang tengah kukirim untukmu.

Tiba-tiba segurat wajah tergambar dalam rangkaian kata yang sedang ku eja. Wajah seseorang yang begitu ku cinta. Wajah Ibuku. Lirih wejangannya pun masih terdengar begitu jelas. Adegan di ruang makan malam itu tersaji didepan mata.

“Nak, ibu ingin kau melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi. Ke sebuah negeri yang penuh mutiara ilmu.”
“Apakah.... itu berarti aku harus meninggalkan negeri ini? Untuk berapa lama?”
“Ada ragu dalam suaramu, nak. Mengapa?”

Hening beberapa saat. Ibu menghela nafas panjang. Lalu seakan dapat membaca lubuk hatiku ia memecah keheningan.

“Adakah seseorang yang telah memiliki hatimu, nak?”
Dan masih, keheningan menjadi jawabanku.
“Kau masih muda, anakku. Gapailah cita. Sedangkan cinta, pasti akan datang pada waktunya. Gadis itu, siapapun ia, jika benar-benar ditakdirkan untukmu pastilah akan menunggumu hingga kau kembali nanti.Yakinlah, tulang rusukmu takkan tertukar.”

Kemudian, secara berurutan, wejangan para guruku melintas, seakan berusaha menarik jiwaku yang sedang melayang dalam angan turun kembali ke bumi.
“Carilah agama, maka NANTI, PADA AKHIRNYA, akan kau dapati pula dunia seisinya.” Merdu suara Abah Yasir mengalun. Disusul Suara penuh wibawa Abi Syafi’uddin “Apapun keinginan ibumu, turutilah. keridhoan ibumu adalah juga ridho Tuhanmu. Dan dalam keridhoan Tuhanmu lah kebahagiaan hakiki kau raih”

Tanganku bergetar. Sepertinya kesadaran mulai memenuhi kalbu. Apa lagi yang hendak ku tulis? Kadang ketika mata menjadi gelap, kita melakukan hal-hal bodoh nan konyol yang pada akhirnya akan kita tertawakan sendiri. Aku tersenyum malu. Sang pena menangkap kecanggunganku, lalu mulai menyusun kata baru.

Fikiran tak menentu, ditingkahi suara hujan yg semakin merdu.
Tetap saja tak mampu ku pahami bahasanya, tak terjamah, seperti benakmu...
Bukan karena engkau begitu jauh...
Mungkin laju sang waktu menggiring samar selimuti keberadaanku yg kian tak berarti. 
Maka ku terima saja ejek rintik hujan itu dengan pasrah.
Bahkan tak sempat kusebut namamu. Engkau terlalu cepat berlalu.
Layaknya embun menetes di padang tandus.
Tinggalkan sang musafir mengeja kata rancu diatas lembaran debu pupus.

Akupun tersenyum simpul. Menertawakan diri yang terkadang larut dalam kerinduan kosong. Ceritaku takkan pernah usai, bagaimana bisa sedang ia belum lagi dimulai. Kulirik jam kesayanganku dengan malas, jarum menunjuk angka tiga dan sepuluh, kelas sore sebentar lagi dimulai, batinku. Bergegas jariku kembali sibuk mencorat-coret kertas lusuh ini, menyelesaikan apa yang telah ia awali.

Selesai sudah. Sekedar ungkapan rasa yang sederhana tentang dia dan keberadaanya yang jauh disana. Tentang realita kehidupan yang tak semata hitam dan putih. Tidak juga semata ya atau tidak. Karena sungguh, dalam pertemuan hitam dan putih itu terdapat warna kelabu. Disana lah duniaku. Selesai sudah. Semua telah terucap dan terungkap. Kau, jika benar tulang rusukku, tentu akan selalu dalam penjagaanNya sampai waktuku tiba. Maka untuk apa aku menghawatirkanmu, bukankah Ia Sang Maha Penjaga? Dan untuk apa aku terburu jika memang belum tiba masanya?
Baiklah, kutitip saja salam rindu lewat Tuhanku, kepadanya, siapa pun ia, sang belahan jiwa. Tentu kalamNya jauh lebih indah dan bermakna. Kuremas kertas penuh coretan itu lalu kulemparkan dengan mantab ke tempat sampah disebelah meja. Sambil beranjak menuju pintu, lirih kulantunkan beberapa larik terakhir yang kutulis sebagai penutup coretan lusuhku...

Awan hitam berarak menjauh.
Hujan terlalu cepat berlari.
Padahal masih banyak yg akan kutulis tentang engkau dan keberadaanmu yg entah kemana pergi.
Atau memang baiknya aku yg pergi dari keberadaanmu. Bunuh satu persatu rindu...
Akhirnya, kuremas kata diatas lembaran hujan itu.
Lembaran kata yg terangkai untukmu.
Dengan berat, ku asingkan ia di relung waktu.
Karena ku sadar...
Semua pasti ada waktunya. Dan saat ini, bukan...

*Terimakasih, untuk dia yang menjadi sumber inspirasiku

                                                                                    Roni. Khartoum, 20 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar