Senin, 02 Maret 2015

Sudan, Antara Perjuangan dan Karier




Sudan, Antara Perjuangan dan Karier

Sudan adalah sebuah negara yang belum bisa dikatakan sebagai negara berkembang, apalagi negara maju. Negara Sudan terbagi menjadi dua negara bagian. Sudan yang mayoritas muslim sebelum berpisah dengan Sudan Selatan sangat kaya dengan hasil minyak buminya, dan ini menjadi bagian sebab negara ini diembargo  sepihak oleh negara-negara barat mulai dari tahun 1997 hingga sekarang. Semenjak Sudan terpecah,  pendapatan  kas negara menjadi lemah karena kilang minyak hampir 75% berada di wilayah Sudan Selatan.

            Selain terkenal dengan minyaknya, Sudan juga terkenal dengan Sungai Nil-nya, sungai terbesar dan terpanjang di dunia yang membentang luas di benua Afrika. Disisi lain, negara Sudan sendiri memiliki musim yang sangat ekstrem, diantaranya ketika musim dingin suhunya mencapai 7 derajat Celcius. Begitu juga sebaliknya, ketika musim panas suhu bisa mencapai 48 derajat Celcius. Lebih parahnya lagi masyarakat di Sudan ini sangatlah kolot dan penuh dekadensi. Bisa dikatakan mengalami kemunduran seiring berkembangnya zaman yang serba modern.

            Meski cuaca dan keadaan masyarakat Sudan tergolong masih mundur dalam berbagai aspek, termasuk dalam segi ilmu pengetahuan dan teknologi sangat tidak mendukung mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di sana, akan tetapi hal tersebut tidak serta merta membuat para mahasiswa patah semangat begitu saja. Bahkan, banyak dari mereka merasa tertantang dengan keadaan cuaca maupun kultur di negeri dua nile ini.
           
            Mahasiswa yang belajar di Sudan tidak bisa dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar di Indonesia karena mahasiswa Indonesia yang belajar di sini harus bertahan hidup dengan cuaca ekstrem. Dikala musim panas mereka kepanasan, ketika musim dingin mereka kedinginan. Banyak diantara mereka yang fisiknya lemah jatuh sakit karena cuaca yang tidak sama dengan alam Indonesia. Selain mahasiswa Indonesia, mahasiswa dari negara lain pun banyak yang sakit, bahkan ada yang meninggal dunia. Rata-rata mereka yang meninggal berasal dari negara Malaysia, Thailand, Philipina dan negara-negara Afrika bagian selatan.

            Menjadi mahasiswa Sudan tidak hanya belajar di dalam kelas, sehabis kuliah banyak dari mereka mengikuti kajian-kajian kitab yang diadakan oleh masyayikh Sudan, diantaranya mengkaji kitab fiqih, tafsir, hadits, dan tauhid. Dari banyaknya kajian-kajian kitab di luar kampus membuat para pelajar Indonesia sangat antusias untuk mengikuti kajian hingga larut malam.

            Dari banyaknya kegiatan-kegiatan yang ada, tidak sedikit biaya yang dikeluarkan para mahasiswa di sini untuk ongkos pulang pergi kuliah, maupun menghadiri kajian-kajian kitab, belum lagi ditambah untuk membeli kitab perkuliahan maupunkitab untuk kajian. Maka dari itu, ada sebagian yang memutuskan untuk terjun ke dunia karier, yaitu bekerja.

            Kebanyakan dari mereka yang meniti karier sangatlah piawai mengatur waktu untuk kuliah, mengikuti kajian dan juga bekerja. Oleh sebab itu, mahasiswa Indonesia yang ada di Sudan bisa dikatakan cukup mandiri, tidak meminta kiriman dari orang tua mereka, berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang berada di luar Sudan.

            Bukan hanya belajar dan berkarier saja, mereka juga sangat gigih untuk terjun ke berbagai organisasi kemahasiswaan maupun organisasi Islam yang berada di negeri Omar Baasyir ini. Dari hal ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mahasiswa yang berada di negara Sudan sangatlah terpelajar dan sabar menghadapi susahnya hidup di negeri dua nil ini. Sekian

Car Free Day, Membius Masyarakat Jombang dan Sekitar



Car Free Day, Membius Masyarakat Jombang dan Sekitar

            Setelah satu minggu yang lalu masyarakat Jombang banyak beraktifitas untuk bekerja dan lain sebagainya, Minggu 15 Februari 2015 kembali di adakan car free day di kota Jombang,  kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB)ini, di gelar mulai jalan Ringin contong – Ponorojo.

            Dari pantauan SetaraMuda.org ribuan warga sangat berantusias untuk mengikuti kegiatan Car Free Day yang di gelar oleh pememerintah kota Jombang, sepanjang jalan Ringin contong-Ponorojo dipadati oleh warga sekitar, bahkan ada juga yang datag dari luar kota jombang.

Mulai bersepeda, jogging, jalan sehat, dan bersepatu roda, berbagai macam kegiatan tersebut dilakukan oleh warga jombang dan sekitar untuk liburan akhir pekan, ada juga pedagang mingguan yang datang untuk berjualan di sekitar jalan Car Free Day.

Acara Car free day (CFD) tersebut berlangsung mulai pukul 05.30 hingga pukul 09.00, selama kegiatan banyak sekali petugas kepolisian di kerahkan untuk mengamankan kawasan bebas berkendara, seruas jalan tersebut mobil pribadi dan kendaraan bermontor dilarang untuk melintas.

Iwan yang sehari-harinya bekerja di salah satu instansi pemerintahan kota jombang, mengaku sangat gembira mengikuti kegiatan tersebut, karena setiap liburan akhir pekan bisa ia habiskan bersama istri dan anaknya, iwan juga menambahkan, kegiatan seperti ini sudah diadakan pemerintah Jombang mulai empat tahun yang lalu, ujar Iwan,  saat beristirahat di sebrang jalan, Minggu (15-02-2015)

Selain itu Qomariah yang di bantu suaminya setiap hari berjualan di sepanjang jalan Ringin Contong – Ponorojo, mengaku bersyukur sekali dengan adanya kegiatan Car Free Day(CFD), karena jualannya lebih ramai dari hari lainnya, ia juga menuturkan pendapatannya yang biasanya lima puluh sampai seratus ribu rupiah perhari, dengan adanya Car Free Day ia bisa mengantongi seratus hingga duaratus ribu rupiah tuturnya.

Kegiatan Car Free Day tersebut diadakan untuk mengurangi polusi dan pencemaran udara yang disebabkan oleh polusi kendaraan. Program tersebut di adakan untuk Pengendalian Pencemaran Udara.

Sabtu, 11 Oktober 2014

15 September 2014 Khartoum Sudan.

Tepat pada hari senin pagi kami mahasiswa angkatan 2014 Sudan mengadakan rihlah / wisata ke daerah Bajrowia, di sana terdapat sebuah peningalan sejarah Raja firaun yang sempat menginjakkan kakinya untuk menjajah negara Sudan.
Kami berangkat dari ibukota Khortoum Sudan pada pukul 09.00 sebelum keberangkatan, kami sudah menyiapkan berbagai bekal makanan selama diperjalanan, diantaranya air minum dua galon satu khafadhoh (termos besar) berisi minuman dingin karena cuaca yang sangat panas dan perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih empat jam. selain minuman,kami juga membawa makanan untuk makan siang.

Selama di perjalanan, kami di suguhi bentangan luas pemandangan gurun pasir dan bebatuan terjal seperti gunung yang berada di sisi kanan dan kiri jalan.

Berikut foto-foto kami selama berada di sana :   








 

Selasa, 16 September 2014

Catatan Pimred



Pentingnya Seorang Pemimpin Dalam Sebuah Kelompok

            Membicarakan sosok pemimpin yang ideal untuk masa depan, perlu kita ketahui bahwa sosok pemimpin harus bisa dijadikan contoh atau patokan bagi yang dipimpinnya, oleh karenanya sosok pemimpin harus mempunyai tangung jawab dan  jiwa sosial yang peka terhadap semua permasalahan.

            Pentingnya sosok pemimpinan untuk sebuah kelompok, adalah suatu kebutuhan yang tidak bisa dipungkiri, maka dari itu kita membutuhkan  pemimpin yang ideal, arif, dan bijaksana. seperti sosok pemimpin umat Islam yang terakhir, yaitu baginda Nabi Muhammad SAW,  yang mana sosok beliau menjadi figur bagi umat islam khususnya, dan beliau bukan hanya menjadi sosok figur atau tokoh pemimpin umat islam, akan tetapi beliau juga seorang figur kepemimpinan dalam bernegara.

            Seperti pemaparan yang ada didepan, atau yang biasa kita kaetahui, sosok Nabi Muhammad SAW mempunyai sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatonah. dari situ kita bisa mengambil pelajaran bagi kita, untuk mencari atau pandai dalam memilih seorang pemimpin yang ideal bagi sebuah kelompok tertentu, demi kemajuan suatu kelompok tersebut.

            Seperti kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun, Ketika  Nabi Musa AS meninggalkan umatnya dan tongkat kepemimpinan diserahkan sementara kepada Nabi Harun, akan tetapi pada kenyataanya Nabi Harun tidak bisa memimpin umat Nabi Musa AS, dan pada akhirnya mereka kaum Nabi Musa AS berpindah menyembah Pedet (Anak Sapi).

            Dari situ kita bisa mengambil ibroh, bahwa pemimpin itu sangat penting sekali bagi setiap-setiap kelompok, pemimpin bukan hanya memimpin, akan tetapi harus bisa mengatur kelompok tersebut, dan tidak mengatur saja, bahkan harus bias menjadi suri tauladan bagi yang dipimpin.

            Terdapat juga TOKOH DUNIA yang paling inspiratif, diantaranya yaitu JOHN F KENNEDY adalah seorang tokoh yang sangat populer di era perang Dunia, John juga menjadi panutan bagi para pemimpin-pemimpin Amerika Serikat waktu itu, John juga dikenal sosok yang tegas, bijaksana dan pandai mengunakan otaknya, NAPOLEON BONAPARTE  dikenal sebagai sosok penuh dengan keadilan, hanya bermodalkan semangat, kepercayaan, serta keikhlasan, hinga kini Napolean masih sangat dikenal sebagai penahluk Perancis dan panutan para pemimpin militer hingga kini.

Nah itu tadi adalah sebagian contoh pemimpin dunia yang sangat terkenal hingga kini, namun masih ada pemimpin satu lagi, sosok pemimpin yang hampir mirip mengikuti prilaku Nabi Muhammad SAW. Yaitu MUHAMMAD AHMADINEJAD sosok presiden iran ke 6 yang dikenal dengan kesederhanaanya, pemimpin yang berkorban hanya untuk rakyatnya tanpa memikirkan kemewahan, satu-satunya presiden yang sangat merakyat di era modern ini.

Dari semua penjelasan diatas tadi, kita bias mengambil sebuah pelajaran, bagaimana pentingnya seorang pemimpin bagi setiap kelompok, bukan hanya pintar, pintar saja belum cukup  menjadi patokan untuk memimpin sebuah kelompok, akan tetapi sosok pemimpin juga butuh ketegasan, merakyat, dan terlebih lagi jujur dapat dipercaya. // M Khoironi H

Cerpen Siluet Senja Kerinduan



Siluet Senja Kerinduan
Gerimis sambangi gurun tandus sore ini...
Dalam dinginnya waktu, angin bimbing aroma pasir basah masuki celah jendela berdebu.
Mestinya ku biarkan saja ia basuh relung waktu.
Namun saat ku tatap sang langit biru, ia menjelma kelabu...
Tak ada yg dapat dibaginya kecuali keheningan.
Dan aku pun beringsut di peraduan untuk mengingatmu....

Goresan penaku terhenti, entah mengapa, tak seperti biasanya ia enggan menari. Mungkin karena kelebat bayang waktu sesaat menampakkan jati dirinya. Hmm, memang ada saatnya wangi kenangan membawa haru biru suasana hati.

Kuedarkan pandangan sekeliling kamar. Sepi. Sunyi. Lalu ku tergelak. Bukankah memang begini keadaannya setiap hari? Kalau saja tak ada buku dan baju yang berserakan di setiap pojok, takkan ada yang percaya kamar ini dihuni oleh manusia. Seluruh penghuni kamar ini memiliki dunianya sendiri-sendiri diluar sana. Seluruhnya. Enggan mereka terkungkung dalam pengap. Siapa juga yang rela?
Sudahlah. Apa pula urusanku dengan mereka. Justru karena itulah ku memilih tempat ini. Tempat yang sempurna untuk sejenak mencurahkan isi hati. Kini ku benar-benar dipasung sebuah perasaan yang menghimpit jiwa. Akan ku ungkap semua yang kurasa. Biar jelas semua. Biar lega. Lalu bagaimana cara mengirimkan kepadanya? Ah, itu dipikirkan nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah memberi ruang untuk jiwaku berkata.

Sembari memainkan pena ditangan, sejenak ku terpekur, bertopang dagu, menatap langit melalui jendela tepat disebelah meja. Arak-arakan awan putih yang berjalan perlahan diatas sana menggurat sebentuk wajah. Seketika batinku berbisik sebuah nama, Anis Nur Husna.
***
“Kamu Anis?”
“Iya, aku Anis. Anis Nur Husna”
“Oh. masak? Yang kemarin sms itu yah? Ah, aku tak percaya”
“Ih, beneran Roni...! Tanya saja teman-teman!”

Tak terasa senyuman tersungging dibibir ketika momen itu terpampang jelas di depan mataku. Sesaat namun seperti selamanya, batinku.

“Aku akan memanggilmu Jumi saja. Lebih mudah diingat daripada nama aslimu”
“Dasar, seenaknya saja. Kalau begitu kamu akan kupanggil Ronce. Huh..”
“Jumi.., sini Jumi.. hehe”
“Ronce..Ronceeee..!!!”

Hari-hari yang berlalu kembali mengalir dalam ingatanku. Canda-tawa itu, beserta haru-birunya. Indah. Sesaat suasana kamarku menjelma cerah. Sesaat. Hanya sesaat. Karena sedetik kemudian kabut gelap kenyataan tiba memuramkan warna yang telah ada. Ya, memang begitu realitanya, tak ada yang benar-benar kumiliki saat ini kecuali kenangan.

Seperti berjelaga jika ku sendiri. Menyedihkan rasanya, ucapan Dian Sastro yang dulu selalu kutertawakan itu kini terngiang-ngiang di telingaku. Dan ternyata baru kusadari saat ini rasanya. Sepi. Aku benci. Dan siapakah yang kuasa bertahan dalam pelukannya? Dalam momen seperti ini, tenggelam dalam kenangan indah rasanya lebih kusukai. Daripada harus berkubang dalam realita yang tak benar-benar kuharapkan ada.

“Kamu horor banget sih Jumi”
“Kenapa?”
“Pokoknya horor”
“Huh..”

Kembali ku terkekeh geli mengingat rona mukanya yang cemberut tiap kali ku sebut ia “horor”. Sederhana saja, bayangnya selalu menghantui hari-hariku. Andai saja ia tahu itu. Namun kelu rasanya lidah untuk mengakuinya. Maka kusebut dirinya horor. Bukankah hantu identik dengan horor? Ah, aku dan pikiran sederhanaku.

Jalan-jalan yang dulu kami lalui, tempat-tempat yang sempat tersinggahi, memanggil-manggil. Menawarkan kenangan. Menawarkan cerita. Kembali penaku menggores kata.

 Mengingatmu adalah ketenangan...
Layaknya gerimis diluar sana, membelai lembut dedaunan, luruhkan debu yg kotori hijaunya.
Mengingatmu merapuhkan rindu...
Bimbang terombang-ambing dalam badai ketidak-berdayaan. 
Mengingatmu...
Ah...

Sekali lagi tanganku terhenti. Kutarik nafas dalam-dalam. Berusaha mengais lebih dalam puing-puing memori yang tersisa. Ragu-ragu, tanganku seakan hendak bergerak namun kembali terhenti. Sedikit rasa sesal meliputi hati. Kenapa tak kukatakan saja saat itu perasaanku, saat aku dekat denganmu, bisikku lemah. Ah, bahkan dalam tulisan pun susah sekali perasaan ini terungkap. Lamat-lamat terdengar batinku memaki-maki. Entah kepada siapa makian itu tertuju. Kepadaku?
 Bodoh! Pengecut! Jika rasamu hakiki, tentu kan kau perjuangkan sepenuh hati. Lihat dirimu! Bahkan untuk berkata saja kau tak mampu. Kau hanya membodohi dirimu. Perasaanmu palsu! Cecar batin...pada diriku. “Andai saja sesederhana itu!” Teriakku, sendiri.

“Ya! Aku menyukainya sejak mula mataku bertatap matanya. Ya! Aku tak pernah bisa mengungkapnya! Tapi saat ini akan ku lakukan itu!” Masih, ku meracau sendiri, beradu argumen dengan hati.

Langit menghitam jelaga hingga ufuk, sadarkan kesunyian akan jiwa terpuruk...
Yah...
Kesendirian adalah jati diriku sejak dulu.
Kedamaian penuh yg tak seorang pun kuasa merenggutnya.
Betapa indah ku rangkai hidup dari ketiadaan, disangga ranting-ranting sepi.
Kini roboh menjadi puing-puing kata yang tengah kukirim untukmu.

Tiba-tiba segurat wajah tergambar dalam rangkaian kata yang sedang ku eja. Wajah seseorang yang begitu ku cinta. Wajah Ibuku. Lirih wejangannya pun masih terdengar begitu jelas. Adegan di ruang makan malam itu tersaji didepan mata.

“Nak, ibu ingin kau melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi. Ke sebuah negeri yang penuh mutiara ilmu.”
“Apakah.... itu berarti aku harus meninggalkan negeri ini? Untuk berapa lama?”
“Ada ragu dalam suaramu, nak. Mengapa?”

Hening beberapa saat. Ibu menghela nafas panjang. Lalu seakan dapat membaca lubuk hatiku ia memecah keheningan.

“Adakah seseorang yang telah memiliki hatimu, nak?”
Dan masih, keheningan menjadi jawabanku.
“Kau masih muda, anakku. Gapailah cita. Sedangkan cinta, pasti akan datang pada waktunya. Gadis itu, siapapun ia, jika benar-benar ditakdirkan untukmu pastilah akan menunggumu hingga kau kembali nanti.Yakinlah, tulang rusukmu takkan tertukar.”

Kemudian, secara berurutan, wejangan para guruku melintas, seakan berusaha menarik jiwaku yang sedang melayang dalam angan turun kembali ke bumi.
“Carilah agama, maka NANTI, PADA AKHIRNYA, akan kau dapati pula dunia seisinya.” Merdu suara Abah Yasir mengalun. Disusul Suara penuh wibawa Abi Syafi’uddin “Apapun keinginan ibumu, turutilah. keridhoan ibumu adalah juga ridho Tuhanmu. Dan dalam keridhoan Tuhanmu lah kebahagiaan hakiki kau raih”

Tanganku bergetar. Sepertinya kesadaran mulai memenuhi kalbu. Apa lagi yang hendak ku tulis? Kadang ketika mata menjadi gelap, kita melakukan hal-hal bodoh nan konyol yang pada akhirnya akan kita tertawakan sendiri. Aku tersenyum malu. Sang pena menangkap kecanggunganku, lalu mulai menyusun kata baru.

Fikiran tak menentu, ditingkahi suara hujan yg semakin merdu.
Tetap saja tak mampu ku pahami bahasanya, tak terjamah, seperti benakmu...
Bukan karena engkau begitu jauh...
Mungkin laju sang waktu menggiring samar selimuti keberadaanku yg kian tak berarti. 
Maka ku terima saja ejek rintik hujan itu dengan pasrah.
Bahkan tak sempat kusebut namamu. Engkau terlalu cepat berlalu.
Layaknya embun menetes di padang tandus.
Tinggalkan sang musafir mengeja kata rancu diatas lembaran debu pupus.

Akupun tersenyum simpul. Menertawakan diri yang terkadang larut dalam kerinduan kosong. Ceritaku takkan pernah usai, bagaimana bisa sedang ia belum lagi dimulai. Kulirik jam kesayanganku dengan malas, jarum menunjuk angka tiga dan sepuluh, kelas sore sebentar lagi dimulai, batinku. Bergegas jariku kembali sibuk mencorat-coret kertas lusuh ini, menyelesaikan apa yang telah ia awali.

Selesai sudah. Sekedar ungkapan rasa yang sederhana tentang dia dan keberadaanya yang jauh disana. Tentang realita kehidupan yang tak semata hitam dan putih. Tidak juga semata ya atau tidak. Karena sungguh, dalam pertemuan hitam dan putih itu terdapat warna kelabu. Disana lah duniaku. Selesai sudah. Semua telah terucap dan terungkap. Kau, jika benar tulang rusukku, tentu akan selalu dalam penjagaanNya sampai waktuku tiba. Maka untuk apa aku menghawatirkanmu, bukankah Ia Sang Maha Penjaga? Dan untuk apa aku terburu jika memang belum tiba masanya?
Baiklah, kutitip saja salam rindu lewat Tuhanku, kepadanya, siapa pun ia, sang belahan jiwa. Tentu kalamNya jauh lebih indah dan bermakna. Kuremas kertas penuh coretan itu lalu kulemparkan dengan mantab ke tempat sampah disebelah meja. Sambil beranjak menuju pintu, lirih kulantunkan beberapa larik terakhir yang kutulis sebagai penutup coretan lusuhku...

Awan hitam berarak menjauh.
Hujan terlalu cepat berlari.
Padahal masih banyak yg akan kutulis tentang engkau dan keberadaanmu yg entah kemana pergi.
Atau memang baiknya aku yg pergi dari keberadaanmu. Bunuh satu persatu rindu...
Akhirnya, kuremas kata diatas lembaran hujan itu.
Lembaran kata yg terangkai untukmu.
Dengan berat, ku asingkan ia di relung waktu.
Karena ku sadar...
Semua pasti ada waktunya. Dan saat ini, bukan...

*Terimakasih, untuk dia yang menjadi sumber inspirasiku

                                                                                    Roni. Khartoum, 20 Maret 2013